Putu Wijaya Ber-dangdut Ria

Bagaimana kabar Putu Wijaya? Setelah lama berdiam diri akhirnya kini beliau menancapkan benih kreativitasnya lagi dengan karyanya. Karya apakah yang dibuat Putu Wijaya? Apakah lukisan? Kumpulan cerpen? Drama? Atau novel? Putu Wijaya baru-baru ini menerbitkan novel terbarunya, tetapi yang menjadi pertanyaan dalam novel ini mengenai status novel tersebut. Perlu diketahui novel tersebut merupakan karya sastra trilogi atau karya sastra yang terbagi menjadi tiga bagian. Putu Wijaya dalam karyanya itu memberi judul Trilogi Dangdut? Lagi-lagi pertanyaan muncul, mengapa dangdut, bukannya masalah sosial seperti yang biasa dijadikan tema oleh para seniman (baik sastrawan ataupun seniman lainnya).

Pengarang ini lahir di Puri Anom, Tabanan, Bali pada tanggal 11 April 1941. Sejak duduk di SMP beliau sudah mulai belajar menulis cerita pendek. Kemudian saat beranjak SMA beliau mulai terjun di dunia sandiwara. Memang latar belakang Putu Wijaya sangatlah beragam. Tetapi pada era sekarang beliau lebih condong pada karya tulisnya (karya sastra).

Baiklah, bagaimana dengan trilogi Dangdut-nya Putu Wijaya? Akhir-akhir ini kita banyak dipertemukan dengan bentuk karya sastra trilogi, sebut saja misalnya Trilogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata yang sampai mendapat julukan sebuah karya sastra yang mampu memberi motivasi penuh kepada pembacanya, kemudian trilogi Dee, dan trilogi-trilogi yang lainnya. Dari sini timbulah pertanyaan, apa sekrang lagi musim trilogi? Atau karya sastra trilogi itu ialah karya yang bagus sampai-sampai banyak orang membuatnya, mengapa kok tidak dijadikan satu saja? Apa yang melatarbelakanginya? Apakah royalti yang didapat dari trilogi dan tidak trilogi beda?

Semuanya memang kembali ke diri masing-masing pengarang, yang penting jangan sampai mereka berhenti berkreativitas.

Kembali pada karya Putu Wijaya, beliau memberi judul trilogi Dangdut. Mengapa dangdut? Apa kaitan antara Putu Wijaya dengan dangdut? Atau jangan-jangan istri Putu Wijaya ialah seorang penyanyi dangdut. Tapi yang pasti saya tidak tahu, tapi sebagai penikmat sebuah karya sastra akan mencoba mencari hal itu dan berusaha menguaknya. Memang seorang pengarang tidak akan memberitahukan apa maksud karangannya secara gamblang, karena kalu si pengarang telah memberitahukan maksud sebenarnya dari karya itu maka secara langsung karya tersebut dapat dikatakan mati. Mengapa mati? Karena karya tersebut secara logika sudah tidak bisa diapresiasi lagi. Apa yang bisa diapresiasi dari sebuah karya sastra? Yaitu maksud yang terkandung di dalamnya. Jadi jika pengarang menjelaskan maksud sebenarnya karyanya maka karya tersebut tidak akan menarik lagi untuk diapresiasi, bagaimana bisa diapresiasi, lha wong sudah paham dengan jelas apa maunya karya itu.

Biarkanlah Putu Wijaya dengan trilogi Dangdutnya, kita hanya bisa mendoakan supaya beliau tetap bisa berkarnya untuk Indonesia. Hidup sastra! Hidup Indonesia!

Leave a Reply