Bagaimana Kabar Chairil Anwar

Siapa yang tidak mengenal nama Chairil Anwar. Beliau merupakan seorang sastrawan yang dapat membuat sebuah perubahan bagi bangsanya khususnya pada karya sastra pada zaman itu. Chairil Anwar memang mati muda, tetapi karyanya tetap akan menjadi sebuah legenda.

Berikut beberapa Chairil Anwar yang tergabung dalam buku “Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Terputus”.

YANG TERAMPAS DAN YANG PUTUS

Kelam dan angin lalu mempesiang diriku,

menggigir juga ruang dimana dia yang kuingin,

malam tambah merusak, rimba jadi semakin tugu.

di Karet, di Keret (daerahku y.a.d) sampai juga deru

di Karet, di Keret (daerahku y.a.d) sampai juga deru angin

aku berbenah dalam kamar, dalam diriku juga kau datang

dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;

tapi hanya tangan yang bergerak lantang.

Tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlaku beku.

Syair di atas meruapakan sebuah karya Chairil Anwar yang menceritakan bagaimana kejamnya sebuah kehidupan, hingga apa yang diinginkan ternyata tak sepenuhnya bisa dia dapatkan. Dia merasa mendapat angis segar untuk menumpahkan segala apa yang dirasakan tetapi angin tersebut hanya dapat menerima dengan tidak sepenuhnya. Sehingga dia hanya bisa bergerak hanya dengan sebagian.

BUAT GADIS RASID

Antara

daun-daun hijau

padang lapang dan terang

anak-anak kecil tidak bersalah, baru bisa lari-larian

burung-burung merdu

hujan segar dan menyebur

bangsa muda menjadi, baru bisa hilang ”aku”

Dan

angin tajam kering, tanah semata gersang

pasir bangkit mentanduskan, daerah dikosongi

Kita terapi, cintaku

mengecil diri, kadang bisa mengisar setapak

mari kita lepas, kita lepas mencari jadi merpati

Terbang

Mengenali gurun, sonder ketemu, sonder mendarat

the only possible non-stop flight

Tidak mendapat.

Apa yang bisa kalian berikan terhadap Chairil Anwar yang dapat membuat sebuah perubahan bagi bangsa kita. Yang kita bisa lakukan untuk menghormati beliau yaitu dengan terus mengapresiasi karya-karyanya, karena itulah sebuah penghargaan yang menjadikan karya-karyanya memiliki nilai yang lebih dari hanya sekadar sebuah karya sastra (syair).

Hidup Bangsaku! Hidup Sastrawan Indonesia!!

Cara Sastrawan Berkenalan

Pengenalan awal yang dilaksanakan oleh para sastrawan, yaitu membuat sebuah gemparan yang dibuat secara sengaja maupun tidak sengaja. Dalam artian proses menciptakan hal itu dengan tujuan untuk mendapatkan perhatian dari masyarakat. Misalkan saat pemunculan novel “Larung” karya Ayu Utami, mengapa namanya langsung mewabah di masyarakat? Novel “Larung” karya Ayu Utami merupakan jawara novel Dewan Kesenia Jakarta, dan disebut-sebut novel tersebut merupakan sebuah novel yang sangat mengisyaratkan kefeminisan. Saat seminar yang diadakan di Surabaya (Cinta dalam Perspektif Sastra, di Unesa tahun 2007) saya langsung dapat bertemu dengan Ayu Utami, meskipun saat itu saya hanya sebagai peserta seminar. Seminar yang diadakan sebagai salah acara dalam memperingati Bulan Bahasa. Saat itu Ayu Utami ditemani Seno Gumirah Adjidarma. Keduanya memang terkenal sebagai sastrawan yang cukup mempunyai ciri khas pada setiap karya yang dibuatnya.

Berdasarkan isu-isu yang dibuat (entah dari mana datangnya) nama Ayu Utami semakin mewabah di masyarakat. Sesungguhnya apa yang dilakukan oleh Ayu Utami sendiri dalam menunjukkan eksistensialismenya sebagai seorang manusia?

Perkenalan yang cukup menggemparkan pasti akan membawa dampak yang sangat besar untuk si-subjeknya. Tetapi perkenalan yang menggemparkan tidak selalu membawa kesenangan (kesuksesan) tetapi juga dapat membawa sebuah keterpurukan. Hal ini semua bergantung pada teknik-teknik yang digunakan.

Fakta Seorang Pramoedya Ananta Toer

Fakta-fakta apa saja yang ada dalam diri seorang Pramoedya Ananta Toer,

1. Pendidikan
Sebagai putra sulung tokoh Institut Boedi Oetomo, Pram kecil malah tidak begitu cemerlang dalam pelajaran di sekolahnya. Tiga kali tak naik kelas di Sekolah Dasar, membuat ayahnya menganggap dirinya sebagai anak bodoh. Akibatnya, setelah lulus Sekolah Dasar yang dijalaninya di bawah pengajaran keras ayahnya sendiri, sang ayah, Pak Mastoer, menolak mendaftarkannya ke MULO (setingkat SLTP). Ia pun melanjutkan pendidikan di sekolah telegraf (Radio Vakschool) Surabaya atas biaya ibunya. Biaya pas-pasan selama bersekolah di Surabaya juga hampir membuat Pram gagal di ujian praktik. Ketika itu, tanpa mempunyai peralatan, ia tetap mengikuti ujian tersebut namun dengan cara hanya berpura-pura sibuk di samping murid yang terpandai. Walau begitu, secara umum nilai-nilai Pram cukup baik dan ia pun lulus dari sekolah meski karena meletusnya perang dunia II di Asia, ijazahnya yang dikirim dari Bandung tak pernah ia terima.

2. Asmara
Kisah asmara Pram juga tidak lepas dari pengaruh realitas kemiskinan yang bahkan masih jamak menghinggapi kehidupan para penulis dan seniman masa kini. Perkawinan pertamanya berakhir dengan perceraian dan diusirnya Pram dari rumah mertuanya karena hasil yang ia peroleh dari menulis yang belum menentu tak dapat menafkahi keluarganya. Sementara ia masih hidup tak menentu, suatu hari, meski tak memiliki uang sepeser pun, ia mengunjungi sebuah pameran buku pertama di Indonesia dan melihat salah seorang wanita penjaga stan yang menarik perhatiannya. Ia pun nekad datang dan berkenalan dengan wanita yang ternyata bernama Maemunah tersebut. Setiap hari ia berlama-lama menemani Maemunah duduk di stan itu layaknya seorang penjaga. Bahkan sampai ketika Presiden Soekarno juga mengunjungi dan melihat gadisnya tersebut, dengan bercanda ia gambarkan adegan itu sebagai “buaya kedahuluan buaya.” Keteguhan dan pendekatannya pun membawa hasil, Maemunah terbukti adalah istri yang selalu tetap setia mendampinginya dalam segala suka duka mereka sampai sekarang.

3. Penjara
Penjara adalah tempat yang cukup akrab dengan kehidupan Pram. Dalam tiga periode (zaman Belanda, Orde Lama dan Orde Baru), ia selalu sempat mencicipi penjara. Alasannya pun beragam, mulai dari keterlibatannya dalam pasukan pejuang kemerdekaan pada zaman penjajahan Belanda, masalah bukunya “Hoa Kiau di Indonesia” yang merupakan pembelaan terhadap nasib kaum Tionghoa di Indonesia namun tidak disukai pemerintah Orde Lama, sampai akibat tuduhan terlibat dalam Gerakan 30 September 1965 oleh rezim Orde Baru yang dijalani tanpa melewati proses peradilan. Namun justru di dalam penjara itulah, lahir beberapa karyanya, termasuk masterpiece “Tetralogi Buru” dan juga roman “Arus Balik”.

4. Tetralogi Buru
“Tetralogi Buru” (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) adalah karya yang ia buat selama masa pembuangan di Pulau Buru. Seri novel yang mengisahkan tentang Minke, yang pada dasarnya adalah kisah hidup seorang jurnalis pribumi Indonesia pertama R.M. Tirto Adi Soerjo, itu pada awalnya dikisahkan secara lisan kepada sesama tahanan di Buru karena tidak adanya fasilitas alat tulis. Titik terang mulai muncul 10 tahun kemudian saat Pram yang selalu berada di bawah sorotan dunia internasional (yang karenanya membuat ia tidak mengalami siksaan seberat tahanan lain, meski gendang telinganya tetap rusak akibat siksaan aparat) mendapat sebuah mesin tik kiriman penulis Prancis Jean Paul Sartre. Namun, mesin tik yang masih baru itu sendiri tak pernah sampai ke tangannya, Angkatan Darat malah menggantinya dengan mesin tik bobrok, yang pitanya harus dibuat sendiri oleh para tahanan itu dengan bahan seadanya. Karya Tetralogi Buru juga hampir saja tak dapat diselamatkan seperti banyak karya-karya Pram lainnya yang dibakar oleh tentara. Tetapi jasa-jasa orang asing seperti seorang pastor Jerman dan seorang warganegara Australia bernama Max Lane yang berhasil menyelundupkan keluar dan akhirnya menerbitkan Tetralogi Buru itu di luar negeri. Tak heran jika Pram pernah berkata, “Karya saya sudah diterjemahkan ke dalam 36 bahasa, tapi saya tidak pernah dihargai di dalam negeri Indonesia.”

5. Pandangan dan Ideologi
Berbeda dengan pemerintah Orde Baru yang menudingnya sebagai komunis, Pram sendiri mengaku bahwa ia tak pernah memihak ideologi apapun. Ia selalu mengatakan bahwa ia hanya berpihak pada keadilan, kebenaran dan kemanusiaan. Pramisme, demikian katanya jika ditanya tentang ideologi yang dianutnya. Walau demikian, dalam berbagai kesempatan, ia sering mengatakan bahwa salah seorang tokoh yang paling ia kagumi adalah Bung Karno. Meski begitu, Bung Karno sendiri tidak begitu menyukai Pram. Bermula ketika Pram menghadap Bung Karno untuk membicarakan mengenai hidup para seniman, Pram mengatakan bahwa akan baik jika diadakan konferensi pengarang Asia Afrika. Usul itu disambut oleh Presiden dan ia pun lantas menunjuk Pram sebagai ketua panitianya. Pram menolak dan mengatakan kalau saat ini ia masih terlalu sibuk. Penolakan ini membuat Bung Karno marah. Sejak itu Bung Karno pun tak pernah menyukainya, ia menganggap Pram sebagai sosok yang angkuh.

6. Sejarah
Dalam banyak tulisannya seperti novel “Arok Dedes”, “Tetralogi Buru”, “Di Tepi Kali Bekasi”, “Jalan Raya Pos Jalan Daendels”, dll., Pram terbukti sebagai seorang sejarawan handal yang menawarkan cara pandang sejarah yang berbeda. Sementara sejarah yang ada selama ini menurutnya hanyalah sejarah para penguasa dan peperangan, ia pun selalu berusaha memotret dan menggali sejarah dari sudut pandang rakyat dan kaum jelata. Saat ini, ketika kesehatan membuatnya tak dapat menulis lagi, kegiatannya adalah mengumpulkan kliping untuk proyek ensiklopedia Nusantara yang tebalnya bahkan telah mencapai 4 meter! Proyek itu sendiri rencananya akan mulai dikerjakan dengan uang honor yang akan diterima jika ia menerima penghargaan Nobel.

7. Nobel
Selain berkali-kali dinominasikan untuk meraih penghargaan Nobel Sastra, sampai saat ini, telah berbagai penghargaan ia terima dari banyak penjuru dunia. Dari penghargaan Ramon Magsaysay di Filipina yang sempat menimbulkan polemik di Indonesia sampai Pablo Neruda Award di Chili. Mengenai belum berhasilnya ia merebut Nobel Sastra itu, seorang tokoh sastra Indonesia pernah mengatakan bahwa sebenarnya dulu Pram pernah hampir dapat meraih penghargaan tersebut, sebelum seorang tokoh yang berpengaruh di Indonesia mendatangi juri-juri penilai nobel tersebut dan membisikkan kalimat “Pramoedya is ….”

8. Reputasi Internasional
Sekitar 200 buku Pram telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa: dari Yunani, Spanyol, Belanda, Jerman, Korea, Jepang, Turki, sampai bahasa Malayalam — suatu bahasa etnis di India. Dari pameran sampul karya Pram yang baru-baru ini diadakan di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Jakarta, banyak sampul depan terjemahan ini memakai aksara non-Latin, seperti aksara Thailand, Turki, Jepang, Korea, Rusia. Dari semua ini, terjemahan novel Pram ke bahasa Rusia memang paling awal. Sebelum karya berjudul “Sekali Peristiwa di Banten Selatan”, pada tahun 1957 misalnya telah terbit edisi Moskwa untuk karya berjudul “Cerita dari Blora”, dan kemudian pada 1959 terbit “Cerita dari Blora” dalam bahasa Turkmengozidat, Ashkabad. Tahun 1962 juga terbit “Na Brehu Reky Bekasi”, yang merupakan edisi Chek untuk “Di Tepi Kali Bekasi.

9. Panjang Umur
Apa resep rahasia panjang umur menurut Pram? Sering tersenyum, atur pernafasan, makan bawang putih dan minum anggur merah, demikian yang selalu dikatakan Pram di berbagai kesempatan. Sebelum terkena serangan stroke pada tahun 2000, karena terpengaruh kebiasaannya selama berada di Pulau Buru, Pram selalu menghabiskan waktu dan menjaga kesehatannya dengan mencangkul. Sedikit bergurau waktu itu ia mengatakan bahwa mungkin ia tak akan hidup sampai selama ini jika tak menjalani kamp kerja paksa di Buru. Namun di luar semuanya, memang tak ada yang tahu nasib dan umur seseorang selain Penciptanya.

10. Film
Meski beberapa karyanya terdahulu telah difilmkan di beberapa negara asing, walau masih cenderung ke film non-komersil dan peredarannya dilarang di Indonesia. Berita terakhir mengabarkan bahwa beberapa karya utama Pram seperti “Tetralogi Buru” serta beberapa karyanya seperti “Gadis Pantai”, “Mangir”, dll. telah disetujui untuk difilmkan atas kerjasama beberapa sineas dan rumah produksi lokal dengan biaya miliaran rupiah. Jumlah ini sendiri adalah tawaran paling rendah, karena sebelumnya ia bahkan telah menolak sutradara tenar Amerika Oliver Stone yang kabarnya berani membeli hak memfilmkan “Bumi Manusia” sekitar US$ 1,5 juta (sekitar 15 miliar rupiah). Menurut putrinya, Astuti Ananta Toer, Pram menginginkan orang Indonesia yang menjadi produsernya.

11. Kabar Terakhir
Di usianya yang ke 81 tahun, Pram dikabarkan sedang sakit. “Bapak sakit karena sedih mendengar berita berbagai bencana yang menimpa di Indonesia,” kata keluarganya. Kesehatannya berangsur membaik setelah rombongan cucunya datang ke kediamannya di Bojong membawa gitar dan organ. Pram kini memang selalu menunggu dengan harap kedatangan

Cindy, Vicky, Aditya, Angga, Cynthia, Rofa, dan Gitra — para cucunya dari generasi MTV. Pram, yang pada dasarnya seorang penyendiri itu, kangen mendengar para cucunya yang berusia SMP sampai SMA itu bernyanyi riang apa saja — dan karenanya selalu bangkit daya hidupnya. “Pram suka banget dinyanyikan itu, lho, lagu Amor, amor, juga Ave Maria. Pernah cucu-cucu menyanyikan lagu Peter Pan, Pram tidak ngerti, tapi ia seneng banget,” kata Titik putrinya.

_________________________________________________________________daftar rujukan

Utomo, Ary Cahya. http://pelitaku.sabda.org/node/203

Mengasingkan Orang Hebat

Siapa yang tidak mengenal sosok tersebut? sosok manusia yang dapat membawa perubahan pada perkembangan sastra. Rasa berontaknya sangat tinggi, Beliau akan terus berkarya sampai tidak bisa berkarya lagi. Dalam setiap bukunya dia selalu menuliskan kalimat seperti ini “Salah satu sumbangan untuk negeriku”. Yap, betul sekali dia memang seseorang  yang sangat hebat. Hebat? sudah beberapa kali dia dinobatkan sebagai kandidat peraih nobel sastra. Mungkin beliaulah orang pertama dari negara tercinta kita ini, negera Indonesia  yang dapat menjadi kandidat peraih nobel sastra.  Hebat bukan. Ini merupakan salah satu anak bangsa, yang karya-karyanya memang harus terus kita apresiasikan. Siapa yang tidak berbangga hati jika dapat bertemu langsung dengan beliau, apalagi dapat melakukan diskusi secara intern dengan beliau.

Yang menjadi pertanyaan sampai sekarang ini yaitu berkenaan dengan tetralogi “Rumah Kaca”. Karya tersebut lahir dari tangan beliau saat beliau diasingkan di pulau Buru. Siapa yang mengasingkan? Yap, betul sekali, yang mengasingkan orang hebat tersebut ialah bangsa kita sendiri. Saat pemerintahan orde baru sedang berjalan dengan mulus-mulusnya, berbagai bentuk karya mempunyai batasan (karya dalam berbagai bidang, tidak hanya pada karya seni), sebab ditakutkan karya tersebut merupakan propaganda untuk meruntuhkan era orde baru. Apaun yang ditakutkan sudah pasti terjadi, hal ini dibuktikan dengan adanya “Reformasi” yang merubah negara ini menjadi negara demokrasi yang sebenarnya. Mengapa pemerintahan orde baru mengasingkan Pramoedya Ananta Toer? karena pada zaman itu sedang marak-maraknya penghilangan napak tilas PKI (Partai Komunis Indonesia). Pramoedya Ananta Toer dituduh oleh pemerintah sebagai bagian dari PKI. Apa yang dilakukan pemerintah terhadap Pram? setelah beliau diasingkan ke pulau Buru, seluruh karyanya dibakar habis. Mereka (pemerintah) pada saat itu apa tidak berfikir bahwa sebuah karya ialah jiwa atau bagian dari jiwa yang tercurahkan. Apa memang ini yang dinamakan sebuah negara akan maju? tetapi nyatanya sampai sekarang negara tercinta ini masih tetap berada dalam kategori dan tampaknya enggan beranjak jauh yaitu “Negara Berkembang”.

Berkaca dari kejadian yang dialami Pramoedya Ananta Toer, siapa yang patut disalahkan? apa pemerintahan pada zaman tersebut? masyarakat? ataukah Pramoedya sendiri yang saat itu sebagai tertuduh? memang kita tidak bisa menyalahkan siapa-siapa, tetapi kita dapat menjadikan hal yang buruk menjadi baik, dan menjadikan hal yang baik menjadi lebih baik.

Hidup sastra Indonesia, hidup Indonesia!!!!!

Putu Wijaya Ber-dangdut Ria

Bagaimana kabar Putu Wijaya? Setelah lama berdiam diri akhirnya kini beliau menancapkan benih kreativitasnya lagi dengan karyanya. Karya apakah yang dibuat Putu Wijaya? Apakah lukisan? Kumpulan cerpen? Drama? Atau novel? Putu Wijaya baru-baru ini menerbitkan novel terbarunya, tetapi yang menjadi pertanyaan dalam novel ini mengenai status novel tersebut. Perlu diketahui novel tersebut merupakan karya sastra trilogi atau karya sastra yang terbagi menjadi tiga bagian. Putu Wijaya dalam karyanya itu memberi judul Trilogi Dangdut? Lagi-lagi pertanyaan muncul, mengapa dangdut, bukannya masalah sosial seperti yang biasa dijadikan tema oleh para seniman (baik sastrawan ataupun seniman lainnya).

Pengarang ini lahir di Puri Anom, Tabanan, Bali pada tanggal 11 April 1941. Sejak duduk di SMP beliau sudah mulai belajar menulis cerita pendek. Kemudian saat beranjak SMA beliau mulai terjun di dunia sandiwara. Memang latar belakang Putu Wijaya sangatlah beragam. Tetapi pada era sekarang beliau lebih condong pada karya tulisnya (karya sastra).

Baiklah, bagaimana dengan trilogi Dangdut-nya Putu Wijaya? Akhir-akhir ini kita banyak dipertemukan dengan bentuk karya sastra trilogi, sebut saja misalnya Trilogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata yang sampai mendapat julukan sebuah karya sastra yang mampu memberi motivasi penuh kepada pembacanya, kemudian trilogi Dee, dan trilogi-trilogi yang lainnya. Dari sini timbulah pertanyaan, apa sekrang lagi musim trilogi? Atau karya sastra trilogi itu ialah karya yang bagus sampai-sampai banyak orang membuatnya, mengapa kok tidak dijadikan satu saja? Apa yang melatarbelakanginya? Apakah royalti yang didapat dari trilogi dan tidak trilogi beda?

Semuanya memang kembali ke diri masing-masing pengarang, yang penting jangan sampai mereka berhenti berkreativitas.

Kembali pada karya Putu Wijaya, beliau memberi judul trilogi Dangdut. Mengapa dangdut? Apa kaitan antara Putu Wijaya dengan dangdut? Atau jangan-jangan istri Putu Wijaya ialah seorang penyanyi dangdut. Tapi yang pasti saya tidak tahu, tapi sebagai penikmat sebuah karya sastra akan mencoba mencari hal itu dan berusaha menguaknya. Memang seorang pengarang tidak akan memberitahukan apa maksud karangannya secara gamblang, karena kalu si pengarang telah memberitahukan maksud sebenarnya dari karya itu maka secara langsung karya tersebut dapat dikatakan mati. Mengapa mati? Karena karya tersebut secara logika sudah tidak bisa diapresiasi lagi. Apa yang bisa diapresiasi dari sebuah karya sastra? Yaitu maksud yang terkandung di dalamnya. Jadi jika pengarang menjelaskan maksud sebenarnya karyanya maka karya tersebut tidak akan menarik lagi untuk diapresiasi, bagaimana bisa diapresiasi, lha wong sudah paham dengan jelas apa maunya karya itu.

Biarkanlah Putu Wijaya dengan trilogi Dangdutnya, kita hanya bisa mendoakan supaya beliau tetap bisa berkarnya untuk Indonesia. Hidup sastra! Hidup Indonesia!

Ayu Utami Masih Sendiri

Ayu Utami kawin lagi, Seno Gumirah ternyata anak haram, Apa? Chairil Anwar itu belum disunat. Hehehe…..semuanya itu ialah bahasa gosip, tetapi itu semua nggak bener kok (emmm, tapi nggak taulah).

Menurut kenyataan dan informasi sih Ayu Utami masih tetap sendiri, kenapa ya? Apa mungkin Ayu Utami tidak laku, tetapi nggak mungkin lah, orang dia cantik (menurutku sih saat terakhir saya lihat parasnya di Surabaya, menurutku cantik juga sih, tapi tetep badannya keker banget), terus dia kaya lagi (bagaimana nggak kaya novel larung dan samannya jadi hebat). Hayo kalo sudah seperti itu siapa yang nggak mau? Terus apa kira-kira apa yang menjadikan Ayu Utami memiliki pemikiran seperti itu.

Bila dipandang dari kebutuhan seksual setiap orang pasti tidak ingin melewatkannya karena itu memang merupakan sebuah kebutuhan rohani dan jasmani yang memang harus dilaksanakan. Kemudian bagaimana dengan Ayu Utami untuk memenuhi kebutuhan seksualnya? Apakah dia beli diluar atau dia bermain-main dengan siapapun? Semuanya itu patut dipertanyakan. Bisa dibilang umur Ayu Utami tidak muda lagi. Bila dipikir secara rasional dengan akal yang lagi fresh-freshnya khan nggak mungkin kalau dalam waktu selama itu Ayu Utami dalam pikirannya tidak pernah terlintas pikiran untuk memenuhi kebutuhan seksualnya? Itulah yang masih menjadi teka-teki? Tetapi itu semua merupakan jalan yang dia tempuh untuk menjalani hidupnya? Dan mungkin itu ialah warna yang ingin dia buat dalam hidupnya? Sebuah warna yang akan terus diciptakannya? Tetapi apakah warna itu akan terus seperti itu? Kita tunggu saja apa yang akan terjadi selanjutnya.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.